Senin, 08 April 2013

Tempat dan Waktu Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Benar




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ash-Shāffāt 


Bab 92


  Tempat dan Waktu Kelahiran 
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Benar

 Oleh

 Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam  bagian akhir Bab  sebelumnya  telah dikemukakan keheranan gadis Maryam binti ‘Imran mengenai kabar gembira dari malaikat bahwa ia akan memiliki seorang anak laki-laki, padahal ia telah bersumpah – untuk memenuhi nazar ibunya (QS.3:36) – untuk mengabdi  pada agama seumur hidupnya,  firman-Nya: 
Ia, malaikat, berkata: "Demikianlah.” Tuhan engkau ber­firman: "Itu mudah bagi-Ku, dan supaya Kami menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia serta suatu rahmat dari Kami, dan hal itu adalah perkara yang telah di­putuskan.“ (Maryam [19]:22).
Ungkapan  supaya Kami menjadikan dia suatu Tanda bagi manusia” berarti  kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tanpa ayah  yang sungguh merupakan suatu Tanda besar bagi Bani Israil, hal itu mengisyaratkan bakal terjadi perpindahan kenabian dari keturunan (Bani) Israil kepada keturunan (Bani)  Isma’il, dan merupakan peringatan kepada Bani Israil  bahwa ruhani mereka telah begitu rusak serta  akhlak mereka telah begitu mundur, sehingga tidak ada seorang laki-laki di antara mereka yang layak menjadi ayah seorang nabi Allah.
Dalam artian ini pula Nabi Isa Ibnu Maryam a.s  telah disebut sebagai "suatu Tanda bagi Saat" dalam Al-Quran (QS.43:62), ialah Tanda mengenai saat ketika kenabian harus dipindahkan dari Bani Israil kepada Bani Isma’il. Ada pun makna  bahwa kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa ayah  sebagai “rahmat bagi manusia” erat  kaitannya dengan  tingkatan ruhani  hamba-hamba Allah yang bertakwa, yang dimisalkan sebagai Maryam binti ‘Imran, yang karena   tiupanRuh” dari Allah Swt.  melahirkan tingkatan ruhani  Isa Ibnu Maryam (QS.66:13).
  Dengan demikian terdapat kesejajaran atau persamaan antara keadaan Siti Maryam  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari segi jasmani dengan keadaan ruhani dari orang-orang yang telah mencapai tingkatan ruhani Maryam binti ‘Imran dan tingkatan ruhani Nabi isa Ibnu Maryam a.s. yakni melalui “tiupan ruh” dari Allah Swt., firman-Nya:
 وَ مَرۡیَمَ  ابۡنَتَ عِمۡرٰنَ  الَّتِیۡۤ  اَحۡصَنَتۡ فَرۡجَہَا  فَنَفَخۡنَا فِیۡہِ  مِنۡ  رُّوۡحِنَا وَ صَدَّقَتۡ بِکَلِمٰتِ رَبِّہَا وَ کُتُبِہٖ وَ کَانَتۡ مِنَ  الۡقٰنِتِیۡنَ﴿٪﴾
Dan mengemukakan sebagai misal  Maryam putri ‘Imran,  yang telah memelihara kesuciannya, maka Kami meniupkan ke dalamnya Ruh Kami,  dan ia menggenapi firman Tuhan-nya dan Kitab-kitab-Nya, dan ia termasuk orang-orang yang patuh. (At-Tahrīm [66]:11-13).

Arti Qadar dan Qadha

  Ungkapan  perkara yang telah diputuskan” berarti bahwa Allah Swt.   telah menakdirkan seorang anak tanpa ayah akan dilahirkan Siti Maryam, dan keputusan ini tidak dapat dicabut kembali. Al-Quran telah mempergunakan dua buah perkataan yaitu qadar dan qadha, untuk menyatakan pengertian keputusan Allah itu.
Kata yang pertama, qadar,  berarti  merencanakan atau menentukan, sedang kata yang disebut terakhir, qadha,  berarti memutuskan. Bila suatu pola atau rencana hanya dipikirkan untuk dilaksanakan  maka rencana itu disebut qadar, dan bila telah diputuskan oleh Allah Swt. bahwa rencana itu harus dilaksanakan, rencana itu disebut qadha.
Jadi, kelahiran Isa Ibnu Maryam a.s.  tanpa ayah  merupakan qadha (keputusan) Allah Swt.   Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَحَمَلَتۡہُ  فَانۡتَبَذَتۡ بِہٖ مَکَانًا قَصِیًّا ﴿﴾  فَاَجَآءَہَا الۡمَخَاضُ  اِلٰی جِذۡعِ  النَّخۡلَۃِ ۚ قَالَتۡ یٰلَیۡتَنِیۡ مِتُّ قَبۡلَ ہٰذَا  وَ کُنۡتُ نَسۡیًا مَّنۡسِیًّا﴿﴾  فَنَادٰىہَا مِنۡ تَحۡتِہَاۤ  اَلَّا تَحۡزَنِیۡ قَدۡ جَعَلَ  رَبُّکِ  تَحۡتَکِ  سَرِیًّا ﴿﴾  وَ ہُزِّیۡۤ  اِلَیۡکِ بِجِذۡعِ النَّخۡلَۃِ  تُسٰقِطۡ عَلَیۡکِ  رُطَبًا جَنِیًّا﴿۫﴾       فَکُلِیۡ وَ اشۡرَبِیۡ وَ قَرِّیۡ عَیۡنًا ۚ فَاِمَّا تَرَیِنَّ مِنَ الۡبَشَرِ اَحَدًا ۙ فَقُوۡلِیۡۤ  اِنِّیۡ نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمٰنِ صَوۡمًا فَلَنۡ اُکَلِّمَ الۡیَوۡمَ  اِنۡسِیًّا﴿ۚ﴾
Maka Maryam mengandungnya,   lalu ia mengasingkan diri bersamanya ke suatu tempat yang jauh. Maka rasa sakit melahirkan  memaksanya pergi ke sebatang pohon kurma.   Ia berkata: "Alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali!"   Maka ia, malaikat, menyerunya dari arah bawah dia:  "Janganlah engkau bersedih hati,  sungguh Tuhan engkau telah membuat anak sungai  di   bawah engkau,  dan goyangkan ke arah engkau pelepah batang kurma itu, ia akan menjatuhkan berturut-turut atas engkau buah kurma yang matang lagi segar.  Maka makanlah dan minumlah, dan sejukkanlah mata engkau. Dan jika engkau melihat seorang manusia maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah maka aku sekali-kali tidak akan  bercakap-cakap pada hari ini dengan seorang manusia pun.  (Maryam [19]:23-27).
  Betapa Siti Maryam bisa mengandung Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tanpa adanya hubungan dengan suami, merupakan salah satu dari rahasia-rahasia Ilahi yang pada masa ini dapat dianggap ada di luar jangkauan kemampuan akal manusia untuk menyelaminya. Hal ini dapat dipandang sebagai di atas hukum alam yang lazim kita kenal. Tetapi ilmu manusia  bagaimana pun tingginya  tetap terbatas. Ia tidak mampu memahami semua rahasia Ilahi.
Di alam raya terdapat rahasia-rahasia yang sampai kini manusia belum berhasil memecahkannya, boleh jadi selama-lamanya ia tidak akan dapat memecahkannya. Diantaranya  adalah kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   tanpa ayah. Cara bekerja Allah Swt.   tidak dapat diteliti, dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. Dia yang dapat menciptakan seluruh alam dengan kata kun (jadilah), pasti dapat mendatangkan perubahan-perubahan demikian dalam suatu benda, sehingga rahasia yang nampaknya tidak terpecahkan itu akhirnya dapat dipecahkan juga.

Kesaksian Ilmu Kedokteran Tentang Hamil
Tanpa Melalui Pernikahan yang Lazim

Lagi pula ilmu kedokteran tidak mutlak menolak kemungkinan, — dilihat melulu dari segi biologi dan dalam keadaan-keadaan tertentu — adanya gejala alami Parthenogenesis (pembuahan sepihak), atau kelahiran seorang anak dari seorang perempuan  tanpa adanya hubungan dengan seorang pria.
Ahli-ahli kedokteran menarik perhatian kepada kemungkinan ini, sebagai akibat dari jenis tumor-tumor tertentu yang kadangkala terdapat pada pinggul atau bagian bawah perempuan. Tumor-tumor  yang   dikenal sebagai “arrhenoblastoma" ini mempunyai kesanggupan menjadikan (membuat)   sel-sel sperma jantan.
Bila sel-sel sperma-jantan yang hidup diproduksi dalam tubuh perempuan oleh “arrhenoblastoma” maka kemungkinan terjadinya  pembuahan pada rahim  seorang perempuan -- tanpa perantaraan laki-laki -- tidak dapat ditolak,  yaitu bahwa badannya sendiri akan mendatangkan akibat yang sama seperti seolah-olah sel-sel sperma dari badan laki-laki dipindahkan kepada badannya dengan jalan biasa, atau dengan pertolongan seorang dokter, seperti contohnya pembuahan “bayi tabung”
Baru-baru ini sekelompok ahli penyakit kandungan di Eropa telah menerbitkan data untuk membuktikan kejadian-kejadian ibu-ibu melahirkan bayi tanpa adanya hubungan dengan orang laki-laki (Lancet). Barangkali kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam  tidak merupakan kejadian unik sama sekali dalam hal beliau dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah. Kejadian-kejadian telah tercatat adanya anak­-anak Yang lahir tanpa adanya unsur ayah (Encyclopaedia Britannica, pada kata "Virgin Birth" dan "Anomalies and Curiosities of Medicine", diterbitkan oleh W. Sanders & Co., London).
  Jika kita menolak semua kemungkinan ini maka kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus dianggap, na’ūdzubillāh, tidak sah. Orang-orang Kristen maupun orang-orang Yahudi sama-sama sepakat bahwa kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalah sesuatu di luar kebiasaan — orang-orang Kristen menganggapnya supernatural (kesaktian), sedang orang-orang Yahudi menganggapnya kelahiran jadah (Jewish Encyclopaedia).
 Bahkan di dalam  catatan keluarga pun kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dicatat sebagai kelahiran jadah (Talmud). Kenyataan ini saja merupakan bukti yang kuat mengenai kelahiran luar biasa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   itu. Menurut Injil, Yusuf, suami Siti Maryam, tidak pernah hidup sebagai suami-istri dengan beliau sebelum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. lahir (Matius 1:25). Maka kata "Maka Maryam mengandungnya" mengisyaratkan kehamilan Siti Maryam dengan cara yang luar biasa tanpa adanya hubungan dengan seorang laki-laki.
  "Lalu ia mengasingkan diri bersamanya ke suatu tempat yang jauh”,   maksud “tempat yang jauh" menunjuk kepada Bethlehem yang letaknya kurang lebih 70 mil sebelah selatan Nazaret. Ke sanalah Yusuf membawa Siti  Maryam beberapa waktu sebelum Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  lahir di kota itu.

Tempat Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  

  Kalimat “Maka rasa sakit melahirkan  memaksanya pergi ke sebatang pohon kurma.   Ia berkata: "Alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali! sesuai dengan penjelasan  dari Injil, bahwa tidak ada terdapat kamar di rumah penginapan  tempat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dilahirkan di kota  Bethlehem itu.
Yusuf dan Siti Maryam rupanya terpaksa tinggal di padang terbuka dan Siti Maryam berlindung di bawah sebatang pohon kurma, untuk beristirahat di bawah naungannya, dan boleh jadi juga untuk mendapat tempat bersandar di saat mengalami penderitaan waktu melahirkan bayi:
“Maka ia, malaikat, menyerunya dari arah bawah dia:  "Janganlah engkau bersedih hati,  sungguh Tuhan engkau telah membuat anak sungai  di   bawah engkau,  dan goyangkan ke arah engkau pelepah batang kurma itu, ia akan menjatuhkan berturut-turut atas engkau buah kurma yang matang lagi segar.   Maka makanlah dan minumlah, dan sejukkanlah mata engkau.”
    Oleh karena kata taht (di bawah) berarti pula lereng gunung (Lexicon Lane), maka ayat  ini menunjukkan bahwa suara itu datang kepada Siti Maryam  dari sisi lereng gunung.
      Sebenarnya Bethlehem terletak di atas sebuah bukit padas yang tingginya 2350 kaki dari permukaan laut dan dikelilingi  oleh lembah-lembah yang sangat subur. Pada bukit padas itu terdapat mata air  yang salah satu di antaranya dikenal dengan nama "Mata air Sulaiman." Mata air lainnya terletak pada jarak kira-kira 800 yard (1 yard = 91.44 cm) di sebelah tenggara kota itu. Keperluan akan air bagi kota Bethlehem dilayani oleh beberapa sumber (mata air) itu.
  Menurut Surah Maryam ayat 24-26 tersebut kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terjadi pada musim ketika pohon-pohon kurma di Yudaea sedang lebat dengan buah-buah kurma yang segar. Musim itu jelas bertepatan pada bulan-bulan Agustus dan September, tetapi menurut anggapan kalangan umat Kristen pada umumnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dilahirkan pada tanggal 25 Desember, hari itu diperingati pada tiap-tiap tahun di seluruh dunia Kristen dengan sangat meriah.
Pandangan umat Kristen ini bukan saja ditentang oleh Al-Quran tetapi juga oleh sejarah, bahkan oleh Perjanjian Baru sendiri. Ketika menulis mengenai waktu kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  Lukas berkata:
"Maka di jajahan itu pun ada beberapa orang gembala, yang tinggal di padang menjaga kawanan binatangnya pada waktu malam" (Lukas 2:8). Menafsirkan pernyataan Lukas ini, Uskup Barns dalam bukunya yang tersohor  "The Rise of Christianity" pada halaman 79 berkata: "Lagi pula tidak ada dalil untuk mempercayai  bahwa 25 Desember itu Hari kelahiran Isa yang sebenarnya. Jika kita dapat menaruh kepercayaan sedikit saja pada ceritera-kelahiran (Isa)  dengan gembala-gembala berjaga-jaga pada malam hari di padang rumput dekat Bethlehem, seperti dikisahkan oleh Lukas, maka kelahiran Isa tidak terjadi di musim dingin ketika suhu di daerah pegunungan Yudaea waktu malam begitu rendah, sehingga adanya salju  bukan sesuatu hal yang luar biasa. Sesudah diadakan banyak perdebatan rupanya Hari Natal kita itu telah ditetapkan kira-kira pada tahun 300 Masehi.

Waktu Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Benar

Pandangan Uskup Barns itu telah didukung oleh "Encyclopaedia Britannica" dan "Chambers Encyclopaedia" (pada kata  "Christmas"):
Hari dan tahun yang tepat  mengenai kelahiran Isa tidak pernah mendapat ketetapan yang memuaskan,  tetapi ketika bapak-bapak gerejawan pada tahun 340 Masehi memutuskan tanggal untuk merayakan peristiwa itu mereka dengan bijaksana memilih Hari-balik matahari (solstice) di musim dingin yang telah tertanam dengan kuat dalam hari rakyat dan yang merupakan pesta mereka yang terpenting. Oleh sebab adanya perubahan-perubahan dalam kalender-kalender buatan manusia. hari-balik matahari dan Hari Natal berselisih hanya beberapa hari saja (Encyclopaedia  Britannica. 15th. edition, vol. 15, pp 642 & 642A) ....    
Kedua, “Hari-balik matahari” di musim dingin itu dianggap sebagai Hari kelahiran matahari, dan di Roma 25 Desember dianggap sebagai suatu pesta orang-orang musyrik memperingati solstice. Gereja, yang tidak dapat menghapuskan pesta rakyat ini, memberi rona ruhani sebagai Hari lahir Matahari Kesalehan (Chambers Encyclopaedia).
Pernyataan-pernyataan kedua Encyclopaedia ini selanjutnya didukung oleh "Commentary on the Bible" karangan Peake. Dalam buku ini, pada halaman 727 Peake berkata: 
"Musim (saat kelahiran Isa) itu jatuh, bukan pada bulan Desember, Hari Natal kita merupakan tradisi di masa agak kemudian, yang mula pertama terdapat di barat."
Dengan demikian penyelidikan terbaru berdasarkan ilmu sejarah mengenai asal-usul agama Kristen telah membuktikan kenyataan tanpa ada keraguan sekelumit pun, bahwa Yesus dilahirkan bukan dalam  bulan Desember.
Dr. John D. Davis dalam bukunya  Dictionary of the Bible" di bawah kata "Year" menulis  bahwa kurma menjadi matang dalam bulan Elul; dan dalam  Commentary on the Bible" karangan Peake (halaman 117), kita dapati bahwa bulan Elul itu bertepatan dengan bulan-bulan Agustus dan September. Lebih jauh Dr. Peake mengatakan” "Y. Stewart dalam bukunya “When Did Our Lord Actually Live?  dengan membuktikan dari prasasti (tulisan) di sebuah gereja di Angora yang menyebutkan ceritera Injil yang sampai ke Tiongkok pada 25-28 Masehi menetapkan kelahiran Yesus pada tahun 8 s.M. (bulan September atau Oktober), dan menetapkan peristiwa penyaliban pada hari Rabu tahun 24 Masehi."
Dari pernyataan-pernyataan kedua buku Encyclopaedia di atas dan didukung oleh kutipan-kutipan dari "Commentary on the Bible" karangan Dr. Arthur S. Peake. M.A.. D.D.. kenyataan itu nampak dengan jelas. bahwa Isa a.s. dilahirkan dalam  penanggalan Yahudi bulan Elul, bertepatan dengan bulan-bulan Agustus­ - September, ketika buah kurma mematang di Yudaea, dan bukan pada tanggal 25 Desember  seperti Gereja menghendaki kita mempercayainya. Dan ini pula pandangan yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Pada hakikatnya segala kesukaran untuk menentukan hari lahir Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. nampaknya telah timbul oleh karena kebingungan mengenai tanggal kehamilan Siti Maryam. Nampaknya Siti Maryam telah menjadi hamil di bulan Nopember atau Desember dan bukan di bulan Maret atau April seperti dipercayai oleh ahli sejarah kaum gereja.
 Apabila kandungan Siti Maryam menjadi terlalu nyata  sehingga tidak dapat disembunyikan lagi sesudah beliau hamil empat atau lima bulan Yusuf terpaksa membawa Siti Maryam  ke rumahnya pada bulan Maret atau April pada tahun berikutnya. Dengan demikian sejarah mengacaukan saat Siti Maryam dibawa oleh Yusuf ke rumahnya di bulan Maret atau April dengan saat beliau menjadi hamil, yang sebenarnya telah terjadi 4 atau 5 bulan sebelumnya.
Dari Surah Maryam ayat 25-26  ini nampak pula  bahwa ketika Siti Maryam melahirkan  beliau berbaring di suatu tempat terlindung yang terletak di bagian atas gunung, sedangkan pohon kurma berada di tempat yang landai, dan oleh karena itu Siti Maryam dengan mudah dapat mencapai batangnya dan mengguncangkannya.
Bahwa di daerah Bethlehem terdapat banyak pohon kurma terbukti dari Bible (Hakim-hakim I:16) dan juga dari "A Dictonary of the Bible" oleh Dr. John D. Davis D.D.. Lagi pula, kenyataan bahwa Siti Maryam telah dibimbing ke suatu mata air, seperti disebutkan dalam ayat terdahulu untuk minum  air dan membasuh dirinya, mengisyaratkan bahwa kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah terjadi dalam bulan Agustus - September, sebab Siti Maryam tidak mungkin membasuh dirinya di tempat terbuka dalam cuaca Yudaea sedingin es di bulan Desember.

Makna Ruhani  Rasa Sakit” Maryam binti ‘Imran
Ketika Melahirkan Isa Ibnu Maryam a.s.

  Perintah menghindari percakapan yang tidak berguna dalam QS.19:27 sebelum ini itu dimaksudkan, yaitu  di  satu pihak untuk menyimpan kekuatan tubuhnya, dan di pihak lain untuk memberi beliau lebih banyak waktu untuk mengkhususkan diri berzikir Ilahi, firman-Nya:
فَحَمَلَتۡہُ  فَانۡتَبَذَتۡ بِہٖ مَکَانًا قَصِیًّا ﴿﴾  فَاَجَآءَہَا الۡمَخَاضُ  اِلٰی جِذۡعِ  النَّخۡلَۃِ ۚ قَالَتۡ یٰلَیۡتَنِیۡ مِتُّ قَبۡلَ ہٰذَا  وَ کُنۡتُ نَسۡیًا مَّنۡسِیًّا ﴿﴾  فَنَادٰىہَا مِنۡ تَحۡتِہَاۤ  اَلَّا تَحۡزَنِیۡ قَدۡ جَعَلَ  رَبُّکِ  تَحۡتَکِ  سَرِیًّا ﴿﴾  وَ ہُزِّیۡۤ  اِلَیۡکِ بِجِذۡعِ النَّخۡلَۃِ  تُسٰقِطۡ عَلَیۡکِ  رُطَبًا جَنِیًّا ﴿۫﴾  فَکُلِیۡ وَ اشۡرَبِیۡ وَ قَرِّیۡ عَیۡنًا ۚ فَاِمَّا تَرَیِنَّ مِنَ الۡبَشَرِ اَحَدًا ۙ فَقُوۡلِیۡۤ  اِنِّیۡ نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمٰنِ صَوۡمًا فَلَنۡ اُکَلِّمَ الۡیَوۡمَ  اِنۡسِیًّا﴿ۚ﴾
Maka Maryam mengandungnya,   lalu ia mengasingkan diri bersamanya ke suatu tempat yang jauh. Maka rasa sakit melahirkan  memaksanya pergi ke sebatang pohon kurma.   Ia berkata: "Alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan sama sekali!"   Maka ia, malaikat, menyerunya dari arah bawah dia:  "Janganlah engkau bersedih hati,  sungguh Tuhan engkau telah membuat anak sungai  di   bawah engkau,  dan goyangkan ke arah engkau pelepah batang kurma itu, ia akan menjatuhkan berturut-turut atas engkau buah kurma yang matang lagi segar.  Maka makanlah dan minumlah, dan sejukkanlah mata engkau. Dan jika engkau melihat seorang manusia maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah  maka aku sekali-kali tidak akan  bercakap-cakap pada hari ini dengan seorang manusia pun.  (Maryam [19]:23-27).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8  April 2013


4 komentar:

  1. Tepat sekali Nabi Isa AS bukan lahir pada bulan Desember (menurut kristen Rumawi) atau January (menurut Kristen Armenia).

    Ada satu pekabaran ghaib, Nabi Zakaria datang ke dalam mimpi seorang Mukmin, mengabarkan Isa AS lahir hari Sabtu terakhir di bulan Muharrom.

    Saya baru melacak dengan calendar converter, Sabtu terakhir di bulan Muharrom pada tahun awal Masehi apakah tahun 0 atau 1 Masehi, semuanya jatuh pada bulan September.

    Sabtu 17 September 0 Masehi = 29 Muharrom 641 Sebelum Hijrah.
    Sabtu 3 September 1 Masehi = 26 Muharrom 640 Sebelum Hijrah.

    Apakah Beliau lahir 17 September 0 Masehi atau 3 September 1 Masehi, semua ini adalah berada pada akhir dari musim panas ketika buah-buahan sedang masak dan banyak-banyaknya !!!

    Mengenai Ayat 61 surat Zukhruf, bahwa Isa AS menjadi TANDA untuk SA'AT (akhir zaman) adalah karena Beliau akan turun ke bumi untuk membunuh Dajjal dan membantu Imam Mahdi menegakkan pemerintahan Islam universal di akhir zaman.

    Salaam

    BalasHapus
  2. Lho lho lho...gak tahunya ini blog orang Ahmadiyyah !

    Mesti gak setuju dengan sebagian pendapat saya diatas soal akan turunnya Nabi Isa di akhir zaman.

    Ya sudah, kita saksikan nanti siapa yang lebih lurus akidahnya.

    BalasHapus
  3. ahmadiyah ga beda tipis dengan NU....

    BalasHapus
  4. Boleh juga tuh hitung2annya tapi kayaknya datanya masih kurang ... ?!

    BalasHapus